Sekolah Favorit Sekolah FavoritCerita, tips, dan rekomendasi yang dipersiapkan dengan rapi.
edu

Sekolah Favorit Favorit: Antara Mimpi dan Realita di Jailolo

Cerita dari Jailolo tentang mengejar sekolah favorit. Bukan sekadar gengsi, tapi soal usaha dan konsistensi belajar tanpa fasilitas mewah.

29 May 2026 · 2 menit baca · oleh Denny Tjoa Susilo
Sekolah Favorit Favorit: Antara Mimpi dan Realita di Jailolo

Waktu SMP di Jailolo, saya sering dengar teman-teman pindah ke kota besar cuma buat masuk sekolah favorit. Saya cuma bisa lihat foto gedung megah di ponsel, rasanya mustahil diraih. Tapi suatu sore, seorang guru bilang, “Sekolah favorit itu bukan soal bangunannya, Denny. Tapi soal bagaimana kamu mengisi kepalamu.” Kalimat itu bener-bener mengubah cara pandang saya.

Saya mulai cari cara belajar meski jauh dari pusat pendidikan. Internet lemot, buku terbatas, tapi saya tetap bertahan. Dua tahun kemudian, saya berhasil masuk sekolah idaman—bukan karena pindah kota, tapi karena nilai dan portofolio. Dari situlah saya sadar: sekolah favorit favorit bukan monopoli anak kota besar.

Belajar Tanpa Batas untuk Menembus Sekolah Idaman

Orang sering mengira masuk sekolah favorit butuh bimbingan mahal atau kenalan. Pengalaman saya di Jailolo membuktiin sebaliknya. Saya manfaatin apa yang ada: grup diskusi daring, buku bekas dari perpustakaan kelurahan, dan jadwal belajar ketat tiap malam. Tidak ada guru privat, tapi saya punya tekad.

Kuncinya konsistensi. Saya belajar materi ujian masuk sejak kelas 8, bukan dadakan di kelas 9. Saya juga rajin ikut try out gratis dari platform pendidikan daring. Meski koneksi sering putus, saya download soalnya lalu kerjain offline. Hasilnya, nilai ujian saya masuk lima besar.

Sekolah favorit sering dikaitkan dengan gengsi. Padahal, esensinya ada pada kualitas pembelajaran dan lingkungan yang mendorong kita berkembang. Saya pilih sekolah yang punya program beasiswa penuh dan bimbingan olimpiade, bukan cuma nama besar. Akhirnya saya lulus dengan prestasi yang membuka beasiswa kuliah.

Penutup alaminya: sekolah favorit favorit bukan tujuan akhir, melainkan jembatan. Saya bersyukur tidak terpaku pada jarak atau status. Yang terpenting adalah bagaimana kita memanfaatin setiap kesempatan, sekecil apa pun. Kini, sebagai penulis yang tinggal di Jailolo, saya sering ceritain kisah ini ke adik-adik kelas. Mereka layak tahu bahwa mimpi tidak terhalang peta—asal kita mau berjalan.

Seorang siswa belajar di meja kayu dengan buku dan laptop di kamar sederhana, menunjukkan semangat meraih sekolah favorit dari daerah

Tag: #sekolah favorit #pendidikan #belajar mandiri #motivasi